Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ada
lomba nih, saya coba-coba nulis. Siapa tau dah tulisannya ngena. Ngena ke hati
mu? Bukan loh, maksudnya ngena ke pembaca nya. Sebenarnya saya orang yang suka
menulis,tapi malas menulis. Itu gimana? Gak tau deh, ada yang bisa mentela-ah
pernyataan tadi?.
Banyak
waktu luang memang, tapi entah mengapa hasrat hati ingin menulis itu ibarat udah
gak sayang lagi sama pacar sendiri, bawaan nya malas aja, padahal ada
kenikmatan di situ. Apa sih?
Tapi
saya merasakan efek dari tidak merealisasikan pikiran saya ke tulisan.Susahnya
kalau di suruh menulis dengan tema yang di tentukan. Jujur kalau saya mikir
berat buat tulisan ini. Walau menulis sekarang beda dengan zaman kita dahulu
yang penuh tekanan dan ancaman.
Itulah efek dari kemalasan? Ambil hikmahnya jon.
Itulah efek dari kemalasan? Ambil hikmahnya jon.
Dengan
pembahasan sesuai judul, saya mencoba menuangkan susu indomilk coklat ke gelas?
Maksudnya menuangkan isi otak? yang mampu saya tuangkan.
---
Susah
memang jika membahas persoalan diri
sendiri. Secara saya juga mahasiswa baru. Dengan otak yang berkarat, saya coba
menuangkan susu indomilk coklat lagi? Ah skip deh.
Mahasiswa
Hebat? Prestasi? Nilai IPK? Eksis? Populer? Apalah itu. Memang jika kita
melihat dari leptop si unyil mahasiswa yang sukses adalah mahasiswa yang menang
dalam segalahal, rajin, pintar, rajin menabung, bermuka 2 untuk ngambil hati
dosen,Ciieee.
Tabu
memang membahas bermuka 2 ,tapi itulah kenyataan. Musuh?, bukan, lebih tepatnya
saingan bagi si muka 1 haha. Kamu termasuk yang bermuka berapa? Jujur saya
bermuka 1 ½ , bermuka 2 hanya saat di butuhkan saja.
Meobrak
abrik pemikiran dosen terhadap kita, kata kejam nya sih ada tapi ya sudah lah.
Memang Tidak bisa di bantah, hal yang membuat
tingkat ke sejahterahan? mahasiswa di ukur dari hal yang sudah saya tulis di
atas.
Akan
menjadi mahasiswa dambaan itu mimpi semua mahasiswa dimana pun ia berada, gak
ada kan mahasiswa di kampus hanya untuk ikut-ikut teman kuliah, walaupun ada
tetapi secara lisan pasti dia tidak akan berbicara begitu. Secara harfiah
manusia di tuntut untuk sukses, tidak tau bagaimana dia mendapatkan sukses itu.
Kuliah? Hanya batu pijakan untuk sukses. Sekali lagi, hanya batu pijakan. Butuh
prinsip dan motivasi apa yang akan di kejar ke depan.
Kata
pak Soim ,kuliah ini hanya masalah nilai/IPK. Seteah saya tela-ah dan pahami
perkataan pak Soim tadi memang benar. Dan saya me-segitiga kan ,maksudnya
membulatkan tekad saya untuk mendapatkan nilai IPK yang maksimal. Bermimpi
dengan topi toga di atas kepala, maju ke depan dengan nilai yang cakep. Disitu
letak mimpi indah para mahasiswa, selain bermimpi dengan artis idola, cee elah.
Ya,
dengan IPK tinggi sudah pasti kita di akui dan dipandang sebagai orang yang
Wah, tidak bisa di pungkiri. Ketika teman, orang tua dan tempat kita melamar
kerja nantinya melihat ijaza dan nilai ,dan bisa di tebak selanjutnya.
Berangkat
dari nilai IPK yang membuat nantinya akan menjadi mahasiswa yang, yah begitu
lah. Eksis di kampus dan ikut di organisasi juga bisa jadi batu pondasi nya. Katanya
dosen dan kakak tingkat di kampus sih begitu. Memang begitu sih haha. Ikut organisasi
melatih kemampuan bersosialisasi nantinya selepas dari kampus. Ibarat singa
kebun binatang yang sudah kehilangan insting berburunya yang di karantina dulu
sebelum di lepas ke alam liar agar dia bisa menyesuaikan diri sebagai predator,
bukan mangsa.
Jadi
apa dong mahasiswa Hebat?
Oke,
terlepas dari semua hal yang di atas, menurut saya Mahasiswa yang hebat belum
bisa di ukur pada saat dia masih menginjak kan telapak kaki yang penuh tanah di
kampusnya. Menurut saya mahasiswa yang hebat adalah mahasiswa yang bisa
mengabsahkan atau boleh di bilang melanjutkan pengalaman suksesnya setelah ia
keluar dari kampus. Lihat kenyataan sekarang di Indonesia. Banyak pengangguran
yang bertitle sarjana. Dan tidak sedikit pasti dari mereka yang aktif di kampus.
Ini realita, bagaimana kalimat Aku akan menjadi Mahasiswa Hebat ,tidak sesimpel
yang di pikirkan. Seperti yang saya tulis di atas, kuliah ini hanya sebagai
batu pijakan. Tidak lebih.
Untuk
itu saya sebagai mahasiswa (baru) menginginkan yang terbaik untuk diri saya
sendiri. Berusaha, berjuang agar nantinya saya menjadi mahasiswa yang (katanya)
Hebat di lingkungan kampus, dan sukses pada saat saya sudah "tidak'' menjawab pertanyaan ‘kemana?’
dengan jawaban ‘ngampus’ lagi.